Kuliner Kendal : Krupuk Pasir Khas Kota Santri Kendal

 

Kuliner Kendal : Krupuk Pasir Khas Kota Santri Kendal

 

Halo para pecinta kuliner Indonesia, mendengar sebutan kota santri pastinya kalian akan langung tertuju pada sebuah kota di daerah pantura yang langsung berbatasan dengan kota Semarang dan kota Batang, yak benar kota Kendal. Kota Kendal di kenal sebagai kota santri karena terdapat banyak pondok pesantren yang ada di wilayah tersebut khususnya daerah kaliwungu. Tak heran bila pada bulan puasa seperti sekarang ini kota Kendal khususnya daerah kaliwungu memiliki banyak acara yang cukup meriah serta ciri khas dari kota tersebut.

Bagi kalian pecinta makanan bakso, nasi goreng atau makanan-makanan yang membutuhkan camilan tambahan pastinya sudah tak asing lagi dengan sosok renyah dan gurih ini. Benar, krupuk merupakan makanan tambahan yang cocok untuk sebagai pelengkap menemani makanan-makanan diatas. Biasanya penikmat krupuk familiar dengan krupuk “terung”, krupuk “gandung” atau krupuk “bawang” yang memang banyak dijumpai dimana-mana.

Di daerah kendal sendiri memiliki sebuah krupuk yang memiliki cita rasa yang manis dan gurih serta renyah yang biasa di jajakan di pinggir jalan sepanjang kota kendal. Berbeda dengan krupuk lainnya yang digoreng diatas minyak yang panas, krupuk ini memang sengaja digoreng diatas pasir yang panas sehingga menghasilkan sebuah krupuk yang renyah dan agak keras yang menjadi ciri khasnya. Penyebutan krupuk ini pun bermacam-macam, mulai dari krupuk tayamum, krupuk pasir bahkan ada yang menyebutnya krupuk “kere”.

Saat saya mendatangi sentra pembuatannya di perkampungan daerah Weleri, awalnya saya heran dengan proses penggorengannya yang sangat unik dan masih tradisional. Dengan menggunakan wajan yang super besar yang berisi pasir yang panas mulailah proses penggorengan kerupuk pasir tersebut. Sama seperti pembuatan jenang proses penggorengan krupuk ini harus selalu diaduk-aduk hingga menghasilkan krupuk yang mengembang dan membesar dari ukuran sebelumnya, karena apabila didiamkan akan membuat krupuk tersebut tidak mengembang dan tidak dapat jual karena keras.

Untuk sekali proses penggorengan kurang lebih memakan waktu 5 menit sekali dengan 2 kali proses penggorengan dan harus sering-sering mengaduknya. Di sentra pembuatan krupuk tersebut selain memproduksi krupuk pasir juga memproduksi krupuk mie yang berwarna kuning. Di tempat tersebut pembuatannya langsung karena merupakan home industri jadi kita dapat mencicipi sekaligus melihat dan membeli krupuk hasil olahan dari rumah tersebut. Meskipun sebelumnya saya pernah merasakan krupuk tersebut tetapi mencoba langsung dari tempat pembuatannya menambah sensasi yang mengesankan bagi saya.

Untuk mendapatkan krupuk pasir atau memborongnya tentu tak akan menguras kocek para pecinta kuliner indonesia sekalian, karena untuk 1 plastik krupuk pasir hanya dihargai 2rb-3rb rupiah saja untuk krupuk mie dan krupuk petis dihargai 2500 rupiah saja. Bagaimana kalian tertarik untuk mencoba menggoreng atau hanya sekedar menikmati krupuk yang digoreng dengan menggunakan pasir?. Oke tunggu cerita keseruanku selanjutnya saat menikmati kuliner di Indonesia Semoga ulasan diatas bermanfaat bagi para pecinta kuliner Indonesia.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *